LAMARAN KAMU DITOLAK?

Mengelola Diri dan Mental Setelah Lamaran Kerja Ditolak

oleh Hendrasly Sulaiman, psikolog dan career coach

Memang, menghadapi penolakan lamaran kerja bukanlah hal yang mudah. Bisa menimbulkan rasa kecewa, runtuhnya rasa percaya diri, dan overthinking apakah saya “worthed” untuk menjadi karyawan? Sebagai seorang rekruter saya sudah mengalami macam-macam reaksi atas penolakan. Saya ingat ada reaksi yang lucu juga, yakni menutupi kekecewaanya dengan sangat tidak profesional yaitu keangkuhan: “saya lulusan PTN ternama yang masuknya susah dan alumninya terkenal pandai, kok tidak diterima”?. Ada pula kandidat yang mendatangkan mamanya untuk meminta penjelasan mengapa anaknya yang lulusan PT ternama tidak diterima di program Management Trainee. Harus disadari bahwa seorang kandidat diterima bukan karena sekadar pandai saja. Tapi kualifikasinya dan kompetensinya dicocokkan dengan persyaratan jabatan yang dibuat dengan hati-hati oleh HRD dan user. Kalau banyak kecocokan baru diterima, sebaliknya ya ditolak.

Untuk itu saya ingin memberikan masukan bagaimana menjaga kesehatan mental dan membangun kembali motivasi setelah menerima penolakan “maaf, kamu belum cocok untuk posisi ini”.Boleh ga kecewa? Boleh dong Tapi jangan lama lama. Terlalu lama kecewa menghasilkan over thinking, stress kronis, cemas, bahkan burnout. Penolakan itu adalah pengalaman belajar, bukan kiamat karir. Jadikan penolakan sebagai pembentuk mentalitas baru bahwa bila “Kamu belum cocok untuk jabatan ini” berarti ada jabatan lain yang lebih cocok untuk kamu. Kalau ditolak ya biarin dan fokus kepada kesempatan berikutnya. Itulah resiliens, suatu kualitas yang sangat disukai oleh setiap rekruter.

Alih-alih bernegatif diri arahkan enerji kecewa menjadi action plan untuk perbaikan diri. Jangan cengeng dan malah menjelek-jelekkan interviewer dan mengolok-olokkan jenis pertanyaannya medsos apalagi di Linkedin. Kalau ditolak, tunjukkan sikap profesional kamu dengan mengirim email atau WA kepada rekruter berterima kasih telah dikasih kesempatan mengikuti seleksi karyawan. Ini bagian dari strategi perbaikan diri karena  bila email atau WA kamu dibalas itu adalah kesempatan meminta feedback dengan sopan untuk perbaikan diri (misalnya gap kompetensi apa sih yang menyebabkan kamu dianggap “kurang cocok” dan pertanyaan semacamnya)  dimana ini akan memberikan insight aspek kompetensi (atau non-kempetensi) yang perlu ditingkatkan. Kamu gak pernah tahu nasib kamu. Saya pernah jadi karyawan juga yang pernah ditolak juga namun kemudian diterima bekerja karena kandidat yang diterima sebelumnya tidak lulus masa probation. Ini semata-mata karena saya menunjukkan resiliensi dan tetap menjaga sikap tindak yang profesional dan memberikan kesan yang baik setelah lamaran kerja saya ditolak.

Saya mendoakan kesuksesan kamu wahai pencari kerja.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *